Manokwari, 29 Maret 2023 – Manusia sejatinya adalah makhluk yang lemah, buktinya saat lahir manusia harus dilayani semua kebutuhanya mulai dari makan dan minum. Orang tuanya harus selalu mengawasi dan mengajari si anak untuk dapat berjalan sendiri hingga bisa beraktivitas secara mandiri. Bahkan untuk sekedar membersihkan kotoranya saja manusia yang baru lahir memerlukan bantuan dari orang lain. Hal ini kontras dengan makhluk lainya misalnya Sapi. Saat Sapi baru lahir, maka dia akan langsung belajar berdiri dan tidak lama kemudian sudah bisa berlari dan makan sendiri.
Setelah menginjak usia dewasa pun, manusia tetap tidak bisa lepas dari bantuan orang lain. Jika mendapatkan ujian berupa musibah, manusia membutuhkan pertolongan orang lain agar dapat lepas dari belenggu. Saat terpuruk dan depresi, manusia membutuhkan pertolongan berupa motivasi dan arahan dari orang lain semata-mata agar manusia dapat terus eksis bertahan hidup. Hal ini seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam ayat berikut ini:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.” QS. Ar-Rum 30: Ayat 54
Namun anehnya, dengan segala kelemahan dan kekurangan yang dimiliki, manusia pula yang menjadi makhluk paling sombong/takabur dan angkuh di muka bumi. Kita berpikir seolah-olah bisa menguasai dunia dan menindas orang lain. Pantaskah sebenarnya manusia bersikap takabbur, jika seluruh kebaikan yang ada pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah SWT semata? Jika tanpa karunia berupa akal untuk berfikir dan hati untuk merasa, maka status manusia bisa jadi lebih hina dari hewan sekalipun.
Momentum bulan Ramadhan ini hendaknya dijadikan sebagai momen introspeksi diri. Adakah kebaikan yang sudah kita tanam dan menjadikan diri lebih baik dari bulan Ramadhan sebelumnya? Atau jangan-jangan hati kita masih tertutup dengan kesombongan dan merasa diri ini adalah makhluk paling mulia? Sebaiknya ita selalu merasa rendah hati dan selalu memohon ampunan dari Allah, karena manusia sejatinya adalah tempat salah dan lupa.
Maka dari itu mumpung kita masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan, kita manfaatkan untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Karena kita tidak pernah tahu apakah ini bulan Ramadhan kita yang terakhir.










Leave a Reply